top of page
Untitled.png

Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Apakah Jadi Pandemi Seperti Covid-19?

  • Florence Febriani Susanto
  • 1 hari yang lalu
  • 6 menit membaca
Hantavirus terdeteksi di Indonesia
Sumber: WMUR

Hantavirus terdeteksi di Indonesia dan kabar ini langsung menjadi perhatian publik dalam beberapa hari terakhir. Banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah virus ini berbahaya dan bisa menyebar seperti Covid-19 dulu? Apalagi, masyarakat sekarang jauh lebih sensitif terhadap isu kesehatan setelah sempat menghadapi pandemi global selama beberapa tahun.


Selain itu, perhatian dunia terhadap hantavirus juga meningkat setelah muncul kasus misterius di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius pada April hingga Mei 2026. Kasus tersebut membuat WHO dan berbagai negara ikut melakukan pengawasan ketat karena ada dugaan penularan antarmanusia dari strain Andes virus. Jadi, sebenarnya seperti apa situasi terkini setelah hantavirus terdeteksi di Indonesia dan apakah masyarakat perlu panik? Yuk, kita bahas bersama!



Awal Mula Hantavirus Terdeteksi


Pada April hingga Mei 2026, hantavirus terdeteksi di atas kapal pesiar ekspedisi MV Hondius milik perusahaan Oceanwide Expeditions.Ā Kondisi ini menyebabkan setidaknya tiga orang penumpang meninggal dan menyebabkan ratusan orang lainnya terjebak di tengah laut.


Atas penemuan kasus tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan berbagai negara memberikan respons darurat kesehatan internasional. Hantavirus sebenarnya bukanlah virus baru karena virus ini dikenal sebagai patogen yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.


Penyebarannya ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan kotoran atau urine hewan tersebut. Namun, kasus di MV Hondius menjadi perhatian khusus karena diduga melibatkan strain Andes, satu-satunya varian hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, meski dengan kemungkinan yang sangat kecil.


Kapal ekspedisi MV Hondius sendiri bertolak dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dengan membawa sekitar 147 penumpang dan kru dari 23 negara. Tujuan pelayarannya mencakup Antartika dan sejumlah pulau terpencil di Atlantik Selatan sebelum akhirnya muncul kasus pertama di tengah perjalanan.



Beberapa hari setelah keberangkatan, seorang penumpang pria berusia 70 tahun asal Belanda mulai mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April. Namun, kondisinya memburuk drastis menjadi gangguan pernapasan berat dan ia meninggal dunia pada 11 April 2026 saat kapal masih berada di tengah pelayaran.


Jenazahnya baru dapat diturunkan saat kapal singgah di Pulau Saint Helena pada 24 April. Pada tanggal yang sama, sekitar 29 penumpang ikut turun di Saint Helena, termasuk istri dari korban pertama yang ternyata juga mulai mengalami gejala sakit.


Istri korban pertama mengalami gejala pencernaan selama penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dan meninggal dunia pada 26 April 2026. Kasus kedua ini kemudian memicu investigasi yang jauh lebih serius oleh otoritas kesehatan internasional.


Pengujian laboratorium pada 4 Mei akhirnya mengonfirmasi bahwa pasien positif terinfeksi hantavirus melalui uji PCR. Selain itu, seorang korban ketiga berkewarganegaraan Jerman meninggal pada 2 Mei setelah mengalami gejala pneumonia sejak akhir April.


Per 4 Mei 2026, WHO mencatat tujuh kasus dengan dua terkonfirmasi berdasarkan hasil laboratorium dan lima lainnya masih berstatus suspek. Dari tujuh kasus tersebut, tercatat ada tiga kematian, satu pasien kritis, dan tiga pasien dengan gejala ringan.


Pada 6 Mei, jumlah total infeksi bertambah menjadi delapan setelah seorang penumpang di Swiss terkonfirmasi positif. Investigasi menyimpulkan bahwa strain yang terlibat adalah Andes virus yang biasa ditemukan di Amerika Selatan.


Strain tersebut menjadi perhatian karena merupakan satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia. Meski demikian, WHO menilai risiko terhadap populasi global masih rendah, namun situasi tetap dipantau secara ketat hingga sekarang.


Hantavirus Terdeteksi di Indonesia


Hantavirus terdeteksi di Indonesia
Sumber: Sky News

Di tengah perhatian global terhadap kasus MV Hondius, hantavirus terdeteksi di Indonesia dan mulai menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat terdapat 23 kasus hantavirus selama periode 2024 hingga 2026.



Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan bahwa dari total kasus tersebut, tiga pasien meninggal dunia. Dengan jumlah itu, case fatality rate atau CFR hantavirus di Indonesia tercatat mencapai 13%.


Berdasarkan data Kemenkes, dari total 251 kasus suspek yang diperiksa, sebanyak 23 kasus dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia akibat komplikasi penyakit.


Selain itu, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem deteksi dini menyusul munculnya kasus hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia.


ā€œWalaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13% tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,ā€ kata Netty dalam keterangannya, Jumat (9/5/2026).


Politikus Partai Keadilan Sejahtera atau PKS tersebut juga meminta Kementerian Kesehatan memperkuat sistem surveillance epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan, terutama di daerah yang sudah teridentifikasi memiliki kasus.


ā€œTenaga kesehatan perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat, melakukan diagnosis dini, serta mencegah keterlambatan penanganan,ā€ kata Netty. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi risiko yang tepat kepada masyarakat agar publik tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan setelah hantavirus terdeteksi di Indonesia.


Mengenal Hantavirus, Penyakit Apa Sebenarnya?


Mungkin Anda masih cukup asing dengan nama penyakit ini karena hantavirus memang tidak sepopuler flu atau Covid-19. Namun sebenarnya, virus ini sudah lama dikenal di dunia medis sebagai penyakit yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.


Penularannya umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang sudah mengering. Selain itu, seseorang juga bisa tertular ketika menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.


Hantavirus Terdeteksi di Indonesia
Sumber: Bloomberg Technoz

Gejala hantavirus pada awalnya sering terlihat seperti flu biasa sehingga cukup sulit dikenali. Penderitanya biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga gangguan pencernaan sebelum akhirnya berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.


Meski begitu, sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Karena itulah, pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah pencegahan paling penting, terutama setelah hantavirus terdeteksi di Indonesia mulai ramai dibahas.


Hantavirus Berpotensi Menjadi Pandemi?


Setelah kabar bahwa hantavirus terdeteksi di Indonesia mulai ramai diperbincangkan, banyak masyarakat langsung mengaitkannya dengan awal pandemi Covid-19. Namun, para ahli menegaskan bahwa karakteristik hantavirus sangat berbeda dibanding virus corona.


Dikutip dari Euronews, ahli epidemiologi penyakit menular WHO Maria Van Kerkhove menyebutkan bahwa hantavirus tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona, melainkan melalui kontak dekat dan intim.


ā€œSaya ingin menegaskan hal ini dengan jelas. Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi Covid. Ini adalah wabah yang kita lihat di kapal,ā€ ujar Kerkhove, dikutip Senin (11/5/2026) dari CNBC Indonesia.


Selain itu, Kerkhove juga mengungkapkan bahwa para pejabat kini tengah menyelidiki kemungkinan penularan dari manusia ke manusia, meski hal ini dianggap sangat jarang terjadi. Orang pertama yang terinfeksi hantavirus di kapal tersebut diyakini kemungkinan besar telah tertular virus tersebut sebelum naik ke kapal.


Pihak berwenang juga menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya binatang tikus di dalam kapal. Terkait penyebaran hantavirus yang tampak mirip dengan masa-masa awal pandemi Covid-19, para ahli mengatakan bahwa hantavirus jauh lebih sulit menular dan memiliki potensi yang jauh lebih kecil untuk berubah menjadi pandemi.


Seorang profesor klinis bidang penyakit menular di Michigan Medicine, Dr. Emily Abdoler mengatakan bahwa kasus-kasus penyebaran virus antar manusia di masa lalu tidak pernah menyebabkan wabah besar, dan hantavirus ini disebut sama sekali tidak sebanding dengan skala Covid-19.



Cek Fakta: Hantavirus Adalah Efek Samping dari Vaksin Covid-19


Hantavirus Terdeteksi di Indonesia
Sumber: RRI

Di tengah ramainya pembahasan mengenai hantavirus, muncul pula informasi di media sosial yang menyebut bahwa infeksi hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech.


Mengutip Reuters, sejumlah akun membagikan dokumen lampiran pengajuan lisensi vaksin Pfizer ke regulator Amerika Serikat pada tahun 2021. Unggahan tersebut menampilkan daftar ā€œadverse events of special interestā€Ā atau kejadian medis yang menjadi perhatian khusus selama periode pemantauan vaksin Covid-19.


ā€œDaftar efek samping vaksin COVID-19 Pfizer mencakup infeksi paru-paru akibat hantavirus!ā€ demikian bunyi postingan yang tersebar luas pada 7 Mei 2026.


Unggahan tersebut berupa tangkapan layar dokumen yang diajukan Pfizer kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA pada tahun 2021 untuk mendapatkan izin biologis atas vaksinnya.


Dalam daftar tersebut memang tercantum istilah ā€œhantavirus pulmonary infectionā€,Ā sehingga memicu kesimpulan keliru bahwa vaksin Pfizer dapat menyebabkan infeksi hantavirus. Padahal, dokumen tersebut tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara vaksin dan penyakit tersebut.


Pfizer menjelaskan bahwa daftar tersebut hanya mencatat seluruh kejadian medis yang dialami peserta selama masa pemantauan, terlepas dari apakah kondisi itu disebabkan oleh vaksin atau tidak.


Artinya, setiap laporan kesehatan yang muncul setelah seseorang menerima vaksin bisa masuk ke database, meskipun belum terbukti berkaitan langsung dengan vaksinasi. Data tersebut dikompilasi menggunakan laporan sukarela melalui berbagai sistem pelaporan nasional seperti VAERS di Amerika Serikat.


Penjelasan serupa juga pernah disampaikan regulator kesehatan AS, U.S. Food and Drug Administration, yang menegaskan bahwa laporan di VAERS tidak otomatis berarti vaksin menyebabkan masalah kesehatan tertentu.


Daftar efek samping yang benar-benar terbukti memiliki hubungan kausal dengan vaksin Pfizer sendiri telah dipublikasikan secara resmi dalam informasi produk vaksin Comirnaty. Dalam dokumen resmi tersebut, tidak ada hantavirus yang disebut sebagai efek samping vaksin.


Meskipun hantavirus terdeteksi di Indonesia, masyarakat tidak perlu langsung panik atau terburu-buru menyamakan situasi ini dengan pandemi Covid-19. Namun, kabar ini tetap perlu menjadi pengingat penting agar masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan dan risiko penyakit dari hewan pengerat.



Selain itu, karena hantavirus terdeteksi di Indonesia berkaitan erat dengan keberadaan tikus, menjaga rumah maupun tempat usaha tetap bersih menjadi langkah pencegahan yang sangat penting. Jadi, jangan menunggu sampai populasi tikus semakin banyak dan sulit dikendalikan, apalagi penyebaran penyakit seperti ini sering terjadi tanpa disadari.


Jika Anda ingin perlindungan yang lebih maksimal, ecoCare Pest Control siap membantu menangani masalah tikus secara profesional dan menyeluruh. Dengan metode yang aman dan efektif, lingkungan Anda bisa tetap bersih, nyaman, sekaligus lebih sehat untuk keluarga maupun karyawan.


Untuk konsultasi atau layanan pengendalian hama setelah hantavirus terdeteksi di Indonesia mulai menjadi perhatian publik, Anda bisa langsung menghubungi ecoCare Pest Control melalui WhatsApp di 0851-8328-8918.


Komentar


bottom of page
WhatsApp ecoCare